Wednesday, February 6, 2008

Syukurnya Seorang Buta

Syukurnya Seorang Buta



Imam Bukhari (hadits no 3464) dan Muslim (hadits no 2964) meriwayatkan


dari Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu alaihi wa salam pernah bercerita:


''Dahulu ada tiga orang Bani Israil yang masing-masing menderita suatu


penyakit. Orang pertama diserang penyakit kudis disekujur tubuhnya,

orang kedua tidak memiliki sehelai rambut pun di kepalanya (botak) dan

orang ketiga menderita cacat pada matanya sehingga tidak bisa melihat (buta).

Allah ingin menguji mereka dengan mengutus malaikat-Nya.



Malaikatpun mendatangi orang pertama seraya bertanya: ''Apa yang paling


anda inginkan?'' Jawabnya: ''Warna dan kulit yang indah serta hilangnya


seluruh cacat di tubuhku yang membuat manusia menjauhiku.''

Malaikat lalu mengusapnya sehingga segala cacat di kulitnya hilang dan berganti warna kulit yang indah.

Malaikat lalu bertanya lagi: ''Binatang (ternak) apa yang anda inginkan?''

Jawabnya: ''Unta...-atau sapi-'' (perawi ragu).

Lantas diapun diberi unta yang sedang bunting dan

malaikat berdoa: ''Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.''.



Selanjutnya malaikat mendatangi orang yang botak dan bertanya: ''Apa yang paling anda inginkan?''

Jawabnya: ''Rambut yang indah serta hilangnya seluruh cacat yang membuat manusia lari dariku.''

Malaikat lalu mengusapnya sehingga cacat di kepalanya hilang dan diberi rambut yang indah.

Malaikat lalu bertanya lagi: ''Binatang apa yang paling anda inginkan?'' Jawabnya: ''Sapi''.

Lantas diapun diberi seekor sapi bunting dan

malaikat berdoa: ''Semoga Allah memberkahimu dengan binatang itu.''



Kemudian malaikat mendatangi orang ketiga (si buta) dengan pertanyaan yang


sama: ''Apakah sesuatu yang paling anda inginkan?'' Jawabnya: ''Semoga


Allah menyembuhkan mataku hingga aku dapat melihat.'' Malaikat lalu


mengusapnya sehingga dia dapat melihat. Malaikat lalu bertanya lagi:


''Binatang apa yang paling anda inginkan?'' Jawabnya: ''Kambing''. Lantas


diapun diberi kambing bunting dan malaikat berdoa: ''Semoga Allah


memberkahimu dengan binatang itu.''



Waktu terus berputar, hari datang silih berganti, bulan terus berganti dan


tahun demi tahun pun berlalu. Ternak mereka makin berkembang biak dan


bertambah banyak, hingga masing-masing mempunyai sebuah lembah yang mereka


pergunakan untuk menggembala ternaknya masing-masing. Lembah unta, lembah


sapi, dan lembah kambing.



Tibalah saatnya bagi Allah untuk menguji mereka.



Malaikat kembali mendatangi orang pertama yang kini adalah orang kaya dan


tidak lagi berkudis. Malaikat tersebut datang dengan wujud dan keadaan


orang tersebut sebelum jadi kaya, yaitu seorang miskin lagi berkudis.


Kemudian mengatakan: ''Saya seorang miskin yang kehabisan bekal dalam


perjalanan, hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah


kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah dikaruniai kulit yang


indah untuk berkenan kiranya memberikan sedikit harta demi kelangsungan


perjalanan saya''. Si kudis menjawab: ''Tidak, kebutuhanku yang lain masih


banyak.'' Malaikat berkata: ''Sepertinya dulu saya pernah mengenal tuan.


Bukankah dahulunya tuan adalah seorang yang berkudis lalu Allah sembuhkan?


Dan dahulu tuan adalah seorang fakir lalu Allah cukupkan?'' Dia menjawab:


''Harta ini adalah warisan nenek moyang sejak dulu''. Kata Malaikat:


''Jikalau engkau dusta maka Allah akan merubah tuan seperti keadaan


semula''.



Berikutnya malaikat mendatangi orang kedua. Malaikat menyerupai wujudnya


ketika masih miskin dan botak dahulu seraya mengajukan permintaan yang


serupa dengan orang kedua tadi. Jawaban yang diperoleh pun tak berbeda


dengan jawaban orang pertama. Akhirnya malaikat berkata: ''Jikalau engkau


dusta, maka Allah akan merubah tuan seperti semula''.



Malaikat kemudian mendatangi orang ketiga dengan rupa seorang buta yang


miskin seraya mengatakan: ''Saya orang miskin yang kehabisan bekal dalam


perjalanan. hari ini tiada yang dapat menolong diri saya kecuali Allah,


kemudian tuan. Saya memohon kepada tuan yang telah disembuhkan oleh Allah


untuk berkenan kiranya memberi saya sedikit harta demi kelangsungan


perjalanan saya ini''. Jawab si buta: ''Dahulu aku adalah seorang buta,


kemudian Allah menyembuhkanku. Maka ambillah apa saja dan berapapun yang


anda mau dan tinggalkan yang anda tidak suka. Demi Allah, saya tidak


merasa keberatan bila anda mengambil sesuatu untuk Allah''. Malaikat


menjawab: ''Tahanlah hartamu, ambillah kembali. Sesungguhnya kalian sedang


diuji. Allah telah meridhoimu dan murka kepada saudaramu''.



Si Buta dengan ikhlas hati memberikan hartanya kepada malaikat tersebut


yang dalam pandangannya adalah seorang yang membutuhkan bantuan. Maka


Allah memberkahinya dan dia tetap memiliki hartanya. Berbeda halnya dengan


kedua rekannya terdahulu yang ternyata dia berubah menjadi seorang bakhil.


Setelah berubah menjadi orang kaya dan berharta, keduanya lupa akan


kewajibannya, yaitu bersyukur kepada Allah dan memberikan hak orang lain


yang juga membutuhkan uluran tangannya. Maka dikembalikanlah keadaan


mereka sebagaimana semula.



Dari kisah di atas kita dapat mengambil banyak hikmah dan pelajaran yang


sangat berharga. Di antaranya:


1. Iman akan adanya para malaikat yang diciptakan Allah dari cahaya.


2. Malaikat dapat menjelma seperti wujud bani Adam.


3. Wajibnya bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah.


4. Syukur nikmat merupakan sebab keridhaan Allah.


5. Penetapan sifat ''Ridho'' dan ''Murka'' bagi Allah sebagaimana aqidah


salaf.


6. Sifat bakhil dan dusta merupakan penyebab murka Allah subhanahu wa


ta'ala sebagaimana terjadi pada si kudis dan si botak.


7. Jujur dan dermawan merupakan sifat yang mulia sebagaimana sifat si buta


di atas.


8. Harta yang sedikit tapi disyukuri itu lebih baik daripada banyak tapi


tidak disyukuri sebagaimana harta si buta yang hanya kambing dibanding


harta si kudis dan si botak yaitu unta dan sapi.


9. Keutamaan shadaqah dan belas kasih terhadap fakir miskin.


10. Pentingnya ilmu kisah karena lebih mendalam di hati manusia.



Sumber: Majalah Al Furqon edisi 1 tahun II