Thursday, January 22, 2009

Rahmat Islam untuk Rahmat Purnomo (Kisah Seorang Pemuda dlm mencari Agama yang Haq)

Rahmat Islam untuk Rahmat Purnomo

Ia adalah seorang laki-laki keturunan sang ayah Holandia dan ibu Indonesia dari kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya.

Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan tinggi pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya juga demikian namun ia bermadzhab panticosta. Sedangkan ibunya sebagai pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang da’wah di sebuah gereja “Bethel Injil Sabino”.

Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikitpun untuk menjadi seorang muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan pelajaran dari orang tuaku yang selalu mengatakan padaku bahwa Muhammad adalah seorang laki-laki badui, tidak punya ilmu, tak dapat membaca dan menulis. Bahkan lebih dari itu aku telah membaca buku profesor doktor Ricolady seorang nasrani dari Prancis bahwa Muhammad itu seorang dajjal yang tinggal di tempat ke sembilan dari neraka. Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak itulah tertanam pada diriku pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak Islam dan menjadikannya sebagai agama.

Pada suatu hari pimpinan gereja mengutusku untuk berda’wah selama tiga hari tiga malam di kecamatan Dairi, letaknya cukup jauh dari ibu kota Medan yang terletak di sebelah selatan pulau Sumatra Indonesia. Setelah selesai, aku hendak menemui penanggung jawab gereja di tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di hadapanku lalu bertanya dengan pertanyaan aneh, “Engkau telah mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah tuhan, mana dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku menjawab, “Baik ada dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting bagimu, jika kamu mau beriman berimanlah, jika tidak kufurlah.”

Namun ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu mengganggu pikiranku dan selalu terngiang-ngiang di telingaku, mendorongku untuk melihat kitab Injil mencari jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah diketahui bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda, salah satunya MATHIUS, yang lainnya MARKUS, yang ketiga LUKAS, dan yang keempat YOHANNES, semuanya buatan manusia. Ini aneh sekali, aku bertanya-tanya pada diriku, “Apakah Al Qur’an dengan nuskhoh yang berbeda-beda juga buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tak bisa lari darinya yakni dengan pasti, “Bukan!”

Aku mempelajari keempat Injil tersebut, lalu apa yang kudapatkan? Injil MATHIUS berbicara apa tentang Al Masih Isa ‘alaihis salam? Kami membaca di dalamnya sebagai berikut, “Sesungguhnya Isa Al Masih bernasab kepada Ibrohim dan kepada Daud…” (1-1), lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah ia anak manusia? Ya, kalau begitu dia manusia. Injil LUKAS berkata, “Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk selama-lamanya. Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33). Dan Injil MARKUS berkata, “Inilah silsilah yang menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1) Dan yang terakhir injil YOHANNES berbicara apa tentang Isa Al Masih? Ia berkata, “Pada awalnya ia adalah kalimat, dan kalimat itu di sisi Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1). Makna dari nash ini dia pada awalnya adalah Al Masih dan Al Masih di sisi Allah, maka Al Masih adalah Allah.

Aku bertanya pada diriku, “Berarti di sana ada perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa ‘alaihis salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah ataukah Raja ataukah Allah? Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan jawabannya. Di sini aku ingin bertanya kepada teman-temanku orang-orang kristen, “Apakah didapatkan dalam Al Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan yang lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al Qur’an datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, adapun Injil-injil ini hanyalah buatan manusia. Kalian tahu dan tidak ragu kalau Isa ‘alaihis salam sepanjang hidupnya berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya: apa landasan awal yang dida’wahkan oleh Isa ‘alaihis salam?

Ini injil MARKUS berkata, “Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al Masih) mereka menerimanya dengan baik, menanyainya tentang ayat wasiat pertama? Ia menjawab sambil berjalan: Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah ‘Dengarkan wahai Bani Isroil! Robb Tuhan kita adalah Robb yang Esa.’” (12: 28-29). Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘alaihis salam, jadi kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa / Satu, maka siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga, maka takkan pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah begitu?

Kemudian aku lanjutkan pencarianku, dan aku temukan pada injil YOHANNES nash-nash yang menunjukkan do’a dan ketundukan Isa Al Masih ‘alaihis salam kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bertanya pada diriku: Jika sekiranya Isa adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lalu apakah ia membutuhkan kepada ketundukan dan do’a? Tentu tidak! Oleh karena itu, Isa bukan tuhan tetapi dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah bersamaku do’a yang terdapat dalam injil YOHANNES, inilah nash do’anya: “Inilah kehidupan yang abadi agar mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan yang haqiqi, dan berjalanlah Al Masih yang Engkau telah mengutusnya, aku pekerjamu di bumi, amal yang Engkau telah berikan padaku ialah amalan yang aku telah menyempurnakannya.” (17-3-4). Ini do’a yang panjang, yang akhirnya berkata, “Wahai Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak mengenalMu, adapun aku mengenalMu dan mereka telah mengetahui bahwa Engkau telah mengutusku dan Engkau telah mengenalkan mereka akan namaMu dan aku akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan seperti Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26).

Do’a ini menggambarkan pengakuan Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Dialah Yang Maha Esa dan Isa adalah utusan Allah yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam injil MATHIUS (15:24) di mana ia berkata, “Aku tidak diutus melainkan pada kaum di rumah Isro’il yang sasar.” Kalau demikian, jika kita gabungkan pengakuan-pengakuannya ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk kita katakan bahwa, “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan Allah kepada Bani Isroil.” Kemudian kulanjutkan pencarianku, maka aku teringat saat aku sholat aku selalu membaca kalimat berikut: (Allah Bapak, Allah Anak, Allah Roh Qudus, tiga dalam satu). Aku berkata pada diriku: Perkara yang sangat aneh! Kalau kita bertanya pada siswa kelas satu sekolah dasar “1 + 1 + 1 = 3 ?” Pasti akan menjawab ya. Kemudian jika kita katakan padanya “Akan tetapi 3 juga = 1 ?” Tentu dia takkan menyepakati hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan yang jelas pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘alaihis salam berkata dalam injil seperti yang kami lihat, bahwa Allah Esa tidak ada serikat baginya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara aqidah yang menancap di jiwaku sejak kecil yakni: tiga dalam satu, dengan apa yang diakui Isa Al Masih sendiri dalam kitab-kitab injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada serikat baginya. Mana dari keduanya yang paling benar? Belum ada usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun yang benar dikatakan bahwa sesungguhnya Allah itu Esa / satu. Kemudian aku cari lagi dari kitab injil dari awal, barangkali aku temukan apa yang kuinginkan. Sungguh telah kutemukan dalam pencarianku nash berikut ini: “Ingatlah wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, sedang yang lainnya bukan tuhan dan tak ada yang menyerupaiku.” (46: 9). Sungguh perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh dengan Islam, aku mendapatkan dalam surat Al Ikhlash firman Allah Ta’ala, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung padaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” Ya, selama kalam itu adalah kalam Allah, maka tidak akan berbeda di manapun didapatkannya. Inilah pelajaran pertama pada agamaku masihiyyah yang dulu, dengan demikian “tiga dalam satu” tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.

Adapun pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di sana ada yang disebut dengan warisan dosa atau kesalahan awal, maksudnya ialah bahwa dosa yang diperbuat Adam ‘alaihis salam ketika memakan buah yang diharamkan dari pohon yang berada di surga, pasti seluruh anak manusia akan mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam rahim ibu akan menanggung dosa ini dan akan lahir dalam keadaan berdosa. Apakah ini benar atau salah? Aku cari tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk pada Perjanjian Lama, di tengah pencarianku aku menemukan pada hizqiyal sebagai berikut, “Seorang anak tidak menanggung dari dosa seorang bapak. Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak …” (hizqiyal: 18: 20-21).

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan di sini apa yang dikatakan Al Qur’anul Karim pada masalah ini, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain …” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitroh, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau menjadikannya Nashrani atau menjadikannya Majusi.” Inilah dia kaidah dalam Islam dan menyepakatinya apa yang ada / datang dalam injil, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa kesalahan Adam akan berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya, dan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa?

Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari kuletakkan Injil dan Al Quran di depanku, kutujukan pertanyaan pada injil, “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?”, jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil. Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al Quran telah bercerita tentangnya, “Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: sungguh Al Quran telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikitpun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah berfirman atas lisan Isa ‘alaihis salam, “Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata: Hai bani Isroil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurot dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad), maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff: 6). Lihatlah! Mana yang benar?!

Di sana ada satu Injil yakni Injil BARNABAS, berbeda dengan empat injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun sayang para pemuka-pemuka agamanya (Nashrani) mengharamkan pengikutnya untuk mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang paling benar ialah karena inilah satu-satunya Injil yang memuat kabar gembira tentang Muhammad, di dalamnya terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat, seperti halnya tedapat pula kenyataan yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al Quran Al Karim. Dalam Injil Barnabas (Ishaah: 163), “Waktu itu para murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Siapa yang akan datang sesudahmu? Al Masih menjawab dengan senang dan gembira: Muhammad utusan Allah pasti akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi orang-orang yang beriman seluruhnya.”

Kemudian kubaca lagi ayat lainnya dari Injil Barnabas yakni ucapannya pada (Ishaah: 72), “Waktu itu seorang murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Saat Muhammad datang apa tanda-tandanya hingga kami mengenalnya? Al Masih menjawab: Muhammad tidak akan datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah seratus tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan orang-orang yang beriman kala itu jumlah mereka tidak sampai tiga puluh orang, maka ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala akan mengutus penutup para Nabi dan Rasul-rasul yaitu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan sebanyak empat puluh lima ayat menyebutkan tentang Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di atas di antaranya sebagai satu bukti.

Setelah ini semua aku berazzam untuk keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi padanya, saat ini tidak ada di hadapanku kecuali Islam. (Lihat kitab ‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail Al Muqoddim).

Para pembaca rahimakumullah demikianlah Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam, menuntut kita selaku para pemeluknya untuk bersyukur. Allah berfirman, “Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di (dada)mu.” (QS Az Zumar: 7).

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan, wallahul haadi ila sabilir rosyad.

Pertama: manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu. Allah berfirman, “Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih, kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus: 19).

Kedua: Islam adalah agama tauhid. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah: Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imron: 18-20).

Ketiga: Aqidah tauhid adalah fitroh manusia. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS Al A’raaf: 172-173).

Keempat: Petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah berfirman, “… Katakanlah sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu. Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunianya kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas karunianya lagi maha mengetahui.” (QS Ali Imron: 73).

Kelima: Isa ‘alaihis salam adalah Nabi dan Rasul Allah. Allah berfirman, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan (tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’. Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai pemelihara.” (QS An Nisaa: 171).

Walhamdulillahi robbil alamin.

(Diringkas dari kitab ‘Uluwul Himmah).


Bolehkah Memiliki Injil?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin

Tanya:

Apakah seorang muslim boleh untuk memiliki Injil untuk mengetahui firman Allah kepada hamba dan rasul-Nya Isa ‘alaihish sholaatu was salaam?

Jawab:

Tidak boleh untuk memiliki sesuatupun dari kitab-kitab sebelum Al Quran, seperti Injil, Taurot, atau selain keduanya, karena dua sebab:

Sebab pertama: Sesungguhnya semua hal yang bermanfaat telah Allah subhanahu wa ta’ala terangkan dalam Al Quranul Karim

Sebab kedua: Sungguh yang terdapat di dalam Al Quran telah mencukupi dari kitab-kitab sebelumnya, karena firman Allah Ta’ala: “Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya…” (QS Ali Imron: 3). Dan firman Allah Ta’ala: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan…” (QS Al Maidah: 48). Maka sesungguhnya kebaikan yang ada di kitab-kitab sebelum Al Quran terdapat dalam Al Quran.

Adapun perkataan si penanya, bahwa dia ingin mengetahui firman Allah kepada hamba dan rasul-Nya Isa, maka hal-hal yang bermanfaat dari firman Allah tersebut pasti telah Allah kisahkan di dalam Al Quran sehingga tidak perlu untuk mencari di kitab lain. Selain itu, Injil yang ada sekarang telah diubah, dan yang menunjukkan hal itu adalah dengan adanya empat injil yang berselisih antara satu dengan yang lainnya dan itu bukan Injil yang satu, dengan demikian tidak boleh percaya padanya.

Adapun tholibul ilmi (penuntut ilmu) yang mempunyai ilmu yang mantap untuk mengetahui yang haq (benar) dari yang bathil maka tidak terhalang untuk mengetahui kitab tersebut untuk membantah kesalahan di dalam kitab itu dan menegakkan hujjah (bukti) atas para penganutnya.

(Sumber: Majmu’ Fatawa jilid 1).

Tatacara Shalat Gerhana

Tatacara Shalat Gerhana

Tatacara Shalat Gerhana

Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah Subhanahu wa Ta'ala di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah 'Azza wa Jalla tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.

Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah”. (Muttafaqun ‘alaihi).

PENGERTIAN GERHANA

Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa[1]. Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

HUKUM SHALAT GERHANA

Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah[2].

Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah.[3] Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (jika kalian melihat, maka shalatlah -muttafaqun ‘alaih).

Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian

biasa saja? Dimanakah rasa takut?

Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah.[4]

Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama.

Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu'anhu.[5] Dalil mereka:

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali. (Muttafqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik.[6] Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari.

Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan).[7] Sebagaimana di dalam hadits disebutkan:

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya. (Muttafaqun ‘alaihi).

Ibnu Qudamah Rahimahullah juga berkata: “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri, namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.[8]

WAKTU SHALAT GERHANA

Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :

Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang. (Muttafaqun ‘alaihi).

KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?

Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sedia kala, dan (2) saat terbit matahari.[9]

AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA :

Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam :

Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah. (Muttafaqun ‘alaihi).

Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya. (Muttafaqun ‘alaihi).

Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu'anhuma berkata:

Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat… (Muttafaqun ‘alaihi).

Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu'anhuma, ia berkata:

Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri).

Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu'anha berkata:

Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam , tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri).

TATA CARA SHALAT GERHANA

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu'anhu , ia berkata:

Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam , maka beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama. (Muttafaqun ‘alaihi).

Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiallahu'anha, ia berkata :

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam… (Muttafaqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:

Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam shalat bersama mereka dua raka’at. (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i).

Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad[10]. Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata : “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan riwayat yang shahih”.[11] Wallahu a’lam.

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.

  1. Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti (misal) al- Baqarah.
  2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
  3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan :

  1. Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.
  2. Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.
  3. Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan :

  1. Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.
  2. Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama

Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘alihi washahbihi ajma’in.

Marâji’:

1. Al-Mughni.

2. Ar-Raudhah an-Nadiyah.

3. Asy-Syarhul-Mumti’.

4. Bidayatul-Mujtahid.

5. Irwâ‘ul Ghalil.

6. Raudhatuth-Thalibin.

7. Shahîh Fiqih Sunnah.

8. Tamamul-Minnah, dan lain-lain.



[1] Lisanul-‘Arab, Kasyful Qanna’, 2/60.

[2] Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/330.

[3] Fathul-Bâri (2/612), Tamamul-Minnah (261), ar-Raudhah an-Nadiyah (156).

[4] Syarhul-Mumti’, 5/237-240.

[5] Al-Umm (1/214), al-Mughni (2/420), al-Inshaf (2/442), Bidayatul-Mujtahid (1/160), dan Muhalla (5/95).

[6] Ibnu Abidin (2/183) dan Bidayatul-Mujtahid (1/312).

[7] Shahîh Fiqih Sunnah, 1/433.

[8] Al-Mughni, 3/323.

[9] Al-Mughni (3/427), Raudhatuth-Thalibin (2/87).

[10] Shahîh Fiqih Sunnah, 1/437

[11] Irwâ‘ul Ghalil, 3/132.

Tuntunan Nabi Shallallahu 'alayhi Wasallam dalam Bersin dan Menguap

Tuntunan Nabi Shallallahu ‘alayhi Wasallam dalam Bersin dan Menguap

Tuntunan Nabi Shallallahu ‘alayhi Wasallam dalam Bersin dan Menguap

Oleh : Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

1. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Sesungguhnya Allah cinta terhadap bersin dan benci terhadap menguap. Apabila salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan “Alhamdulillah”, dan wajib bagi setiap muslim yang mendengarnya untuk menjawab :

“Yarhamukallah” (Semoga ALLAH merahmatimu). Menguap itu datangnya dari syaithan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya dia menahan semampunya karena ketika salah seorang di antara kalian menguap, maka syaithan tertawa. “ [HR. Al-Bukhari]

Dalam riwayat Muslim,

Jika salah seorang di antara kalian berkata “Haaaa” (ketika meguap) maka syaithan tertawa.

2. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda : Jika salah seorang di antara kalian bersin, maka ucapkan “Alhamdulillah”, dan saudaranya (yang mendengar) mendo’akan “Yarhamukallahu”, kemudian yang bersin mendo’akan kembali :

“Yahdikumullahu wa yushlihu baalakum.” (Semoga ALLAH menunjuki kalian dan memperbaiki keadaan kalian). [HR. Al-Bukhari]

3. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Jika salah seorang di antara kalian bersin dan memuji ALLAH maka yang mendengar mengucapkan “Yarhamukallahu”, dan jika tidak memuji maka jangan mengucapkan “Yarhamukallahu”.

4. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Jika salah seorang dari kalian menguap, tahan mulutnya dengan tangannya karena syaithan akan masuk mulutnya. “ [HR. Muslim]

5. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Jika salah seorang dari kalian menguap, tahan mulutnya dengan tangannya atau bajunya dan merendahkan suaranya. [HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata hasan shahih]

6. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

Ucapkan “Yarhamukallahu” terhadap saudaramu yang bersin sampai tiga kali, dan yang selebihnya merupakan flu atau demam. [Hadits dihasankan oleh Al-Albani].

Maksudnya, jangan ucapkan “Yarhamukallahu” pada bersin yang ketiga, namun do’akan dia. [Hadits dihasankan oleh Al-Albani].

7. Nafi’ mengabarkan bahwa seseorang bersin di sisi Ibnu ‘Umar dan berkata “Alhamdulillah wassalaamu’alaa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Ibnu ‘Umar berkata kepadanya, “Kamu mengucapkan “Alhamdulillah wassalaamu’alaa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?”Bukanlah demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘alaa kulli hallin”. (HR. At-Tirmidzi dan berkata Al-Albani, “Hadits hasan”]

Hadits ini memberi faedah bahwa selalu konsisten dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam adalah wajib.

–Allahu a’lamu bish-shawab–

(Dinukil untuk http://najiyah1400h.wordpress.com dari buku : Kesempurnaan Pribadi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam (Quthuufun minasy Syamaailil Muhammadiyyah wal Akhlaaqin Nabawiyyah, wal Aadaabil Islamiyyah.) Karya : Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu; Penerjemah : Abu Isma’il Abdullah bin Rulin; Muraja’ah : Al-Ustadz Ali Basuki, Lc.; Penerbit : Penerbit Al-Ilmu Jogjakarta, Cet. Pertama; Bab : Adab-adab Bersin dan Menguap, Halaman : 172-174)

Raja Saudi Sumbang Gaza Satu Miliar Dolar

Antara Saudi dan Iran
Penulis Haulasyiah
Berbicara tentang sebuah realita memang harus didasari ilmu. Bagaimana jadinya jika ternyata seseorang salah dalam berbicara tentang sebuah realita? Tentu kekonyolanlah yang akan ia dapatkan. Terlebih ketika realita tersebut memang sudah menjadi suatu yang umum diketahui semua kalangan.
Kiranya inilah yang sering menimpa sebagian saudara-saudara kita kaum muslimin, di mana mereka sering salah dalam menyikapi sebuah realita yang sebenarnya sudah jelas keadaannya, sebagaimana jelasnya rembulan purnama di malam yang cerah.
Di antaranya adalah ketika menyikapi daulah Saudi Arabiyah yang dipenuhi kebaikan. Padahal dengan sangat jelas kebaikannya dapat dirasakan semua kalangan, baik bagi mereka yang berada di negeri tersebut maupun yang berada di luar, tak terkecuali kaum muslimin yang berada di Indonesia. di antara kebaikannya untuk masyarakat Indonesia adalah:
Bantuan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Aceh Darussalam dalam jumlah yang sangat besar.
Bantuan dana untuk pembangunan masjid di daerah Palu senilai 900 juta.
Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kami sebutkan satu per satu.
Demikian pula bantuannya untuk saudara-saudaranya yang tertimpa bencana di berbagai negeri di belahan dunia:
Untuk saudaranya yang tertimpa musibah di daerah Gaza dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan imbauan ini langsung dari Raja Abdullah.
Dan masih banyak lagi yang sekali lagi; tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan yang terbatas ini.
Berbeda halnya dengan Iran, sebuah negara yang sejak awal munculnya sudah memikul sejarah buram.
Iran atau yang juga disebut sebagai Persia adalah basis orang-orang majusi, para penyembah api.
Iran yang padanya terdapat sebuah daerah yang bernama Ashbahan adalah basis bagi orang-orang yahudi dan akan menjadi pengikut Dajjal. sebagaimana yang telah dijelaskan nabi kita di dalam haditsnya yang shahih. Yang lebih ‘mengagumkan’ ternyata Iran adalah salah satu negara yang banyak ‘mengoleksi’ bangsa Yahudi.
Iran adalah markas besar bangsa Syi’ah Rafidhah dengan ‘pimpinan’ nya: Ayat Syaithan Al-Khumaini.
Semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah Majusi, Yahudi, dan Syi’ah.

Raja Saudi Sumbang Gaza Satu Miliar Dolar
Kuwait City, (Analisa)
Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz hari Senin (19/1) mengumumkan sumbangan senilai satu miliar dolar AS bagi pembangunan kembali Gaza yang digempur oleh ofensif Israel selama beberapa pekan.
"Atas nama rakyat Saudi, saya umumkan sumbangan sebesar 1 miliar dolar bagi program pembangunan kembali Gaza," kata Raja Abdullah pada pembukaan konferensi tingkat tinggi Arab di Kuwait.
Para pemimpin Arab diperkirakan akan menyetujui penyediaan dana dua miliar dolar bagi rekonstruksi Gaza.
Qatar pekan lalu menyarankan pengumpulan dana bagi Gaza dan menyumbang 250 juta dolar.
Sementara itu konvoi truk yang membawa bantuan kemanusiaan seberat 170 ton berisi pasokan obat-obatan, peralatan medis, pakaian anak-anak, selimut, sebuah generator untuk pengadaan listrik rumah sakit dan makanan berangkat dari Jeddah, Arab Saudi, menuju Gaza Minggu.
Organisasi Konferensi Islam (OKI) membentuk sebuah "jembatan darat", demikian sebuah pernyataan organisasi itu.
Konvoi itu diberangkatkan oleh Sekretaris Jenderal OKI Prof. Ekmeleddin Ihsanoglu, yang mengatakan bantuan tersebut disediakan untuk memenuhi kebutuhan dasar kemanusiaan bagi penduduk di Gaza.
Menurut dia, OKI akan mengirim konvoi bantuan lagi yang mencerminakn solidaritas umat Islam dengan penduduk Gaza yang telah menderita berbagai bentuk kejahatan oleh Israel.
Ia menyerukan negara-negara anggota OKI, lembaga swadaya masyarakat dan kelompok masyarakat lain di dunia Muslim untuk memberikan sumbangan bagi usaha-usaha kemanusiaan OKI.
Jembatan kemanusiaan itu dilakukan bekerja sama dengan Masyarakat Bulan Sabit Merah Saudi dan dengan bantuan Raja Abdullah bin Abdul Aziz.(Ant/AFP/IINA)

Raja Saudi Galang Bantuan Gaza
Riyadh, (Analisa)
Penggalangan bantuan dana yang dilakukan Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi telah mencapai 171.261.643 riyal Saudi sampai Kamis, sebagai tambahan sumbangan dalam berbagai bentuk termasuk makanan awetan, pasokan perlatan medis, obat-obatan, baju, tenda-tenda, selimut, dan perhiasan.
Komisi Saudi untuk Bantuan Rakyat Palestina, Jumat (9/1), memuji respon yang besar dari pangeran, para pejabat, kalangan pengusaha serta rakyat Saudi dari semua umur, di samping kelompok-kelompok ekonomi dengan upaya-upaya yang dilakukannya, untuk menyatakan solidaritas mereka terhadap rakyat Gaza.
Komisi juga menambahkan, bahwa sumbangan-sumbangan tersebut terus mengalir ke pusat-pusat penggalangan bantuan dan markas-markas besar sebagai respon atas seruan Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud, untuk membantu penderitaan rakyat Palestina atas serangan pasukan Israel.
Pemblokadean Gaza dan serangan-serangan udara serta darat yang dilakukan oleh negara Zionis itu telah menelan ratusan korban termasuk rakyat sipil dan menimbulkan krisis kemanusiaan yang luar biasa. (Ant/SPA/OANA)