Saturday, December 6, 2008

MENDENGARKAN ADZAN TAPI TIDAK DATANG KE MASJID

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz


Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukumnya orang yang mendengar adzan tapi tidak pergi ke masjid, hanya saja ia mengerjakan seluruh shalatnya di rumah atau di kantor ?

Jawaban.
Itu tidak boleh. Yang wajib baginya bagi seorang laki-laki Muslim adalah memenuhi seruan tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa mendengar seruan adzan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur” [Hadits Riwayat Ibnu Majah 793, Ad-Daru Quthni 1/421,422, Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246]

Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, “Apa yang dimaksud dengan udzur tersebut?” ia menjawab, “Rasa takut (tidak aman) dan sakit”

Diriwayatkan, bahwa seorang buta datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid. Apakah aku punya rukhshah untuk shalat di rumah?” kemudian beliau bertanya.

“Artinya : Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ? “ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu, penuhilah” [Dikeluarkan oleh Muslim, kitab Al-Masajid 653]

Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya, namun demikian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkannya untuk shalat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maka yang wajib atas seorang Muslim adalah bersegera melaksanakan shalat pada waktunya dengan berjama’ah. Tapi jika tempat tinggalnya jauh dari masjid sehingga tidak mendengar adzan, maka tidak mengapa melaksanakannya di rumahnya. Kendati demikian, jika ia mau sedikit bersusah payah dan bersabar, lalu shalat berjama’ah di masjid, maka itu lebih baik dan lebih utama baginya.

[Syaikh Ibnu Baz, Fatawa ‘Ajilah Limansubi Ash-Shihhah, hal.41-42]


[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 217-218 Darul Haq]

Monday, November 17, 2008

Alkisah ( coba baca sejenak )

Alkisah…suatu hari..


Sholat Subuh di Masjid


Seorang pria bangun pagi2 buta utk sholat subuh di Masjid.


Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid.



ditengah jalan menuju masjid, pria tsb jatuh dan pakaiannya kotor.

Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali kerumah. Di rumah,

dia berganti baju, berwudhu, dan, LAGI,

berjalan menuju masjid.


Dlm perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama!

Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali kerumah.

Dirumah, dia, sekali lagi, berganti baju,

berwudhu dan berjalan menuju masjid.

Di tengah jalan menuju masjid, dia bertemu seorang pria yg memegang lampu.

Dia menanyakan identitas pria tsb, dan pria itu menjawab "Saya melihat anda jatuh 2 kali

di perjalanan menuju masjid,

jadi saya bawakan lampu untuk menerangi jalan anda.'

Pria pertama mengucapkan terima kasih dan mereka berdua berjalan ke masjid.

Saat sampai di masjid, pria pertama bertanya kepada pria yang

membawa lampu untuk masuk dan sholat subuh bersamanya.

Pria kedua menolak.

Pria pertama mengajak lagi hingga berkali2 dan,

lagi, jawabannya sama.

Pria pertama bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan sholat.

Pria kedua menjawab



Aku adalah Setan (devil/ evil)


Pria itu terkejut dgn jawaban pria kedua.

Setan kemudian menjelaskan,

'Saya melihat kamu berjalan ke masjid,

dan sayalah yg membuat kamu terjatuh. Ketika kamu pulang ke rumah,

membersihkan badan dan kembali ke masjid,

Allah memaafkan semua dosa2mu.

Saya membuatmu jatuh kedua kalinya, dan

bahkan itupun tidak membuatmu merubah pikiran untuk tinggal dirumah saja,

kamu tetap memutuskan kembali masjid.

Karena hal itu, Allah memaafkan dosa2 seluruh anggota keluargamu.

Saya KHAWATIR jika saya membuat mu jatuh utk ketiga kalinya,

jangan2 Allah akan memaafkan dosa2 seluruh penduduk desamu,

jadi saya harus memastikan bahwa anda sampai dimasjid dgn selamat..'



Jadi, jangan pernah biarkan Setan mendapatkan keuntungan dari setiap aksinya.

Jangan melepaskan sebuah niat baik yg hendak kamu lakukan karena kamu tidak pernah tau ganjaran yg akan kamu dapatkan

dari segala kesulitan yg kamu temui dalam usahamu utk melaksanakan niat baik tersebut .



If forwarding this message will bother you, or take

too much time from you, then don't do it, but you will not

get the reward of it, which is great.

Monday, October 6, 2008

Rahmat Islam Untuk Rahmat Purnomo

Dia adalah seorang laki-laki keturunan sang ayah Holandia
dan ibu Indonesia dari kota Ambon yang terletak di pulau
kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah
agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya.

Kakeknya adalah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi
pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya
juga demikian namun ia bermadzhab panticosta. Sedangkan
ibunya sebagai pengajar Injil untuk kaum wanita, adapun
dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang
dakwah di sebuah gereja bethel Injil sabino.

Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit untuk menjadi
seorang Muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan
pelajaran dari orang tuaku yang selalu mengatakan kepadaku
bahwa Muhammad adalah seorang laki-laki badui, tidak punya
ilmu, tak dapat membaca dan menulis. Bahkan lebih dari
itu, aku telah membaca buku profesor doktor Ricolady,
seorang nashrani dari Perancis bahwa Muhammad itu seorang
dajjal yang tinggal di tempat ke sembilan dari neraka.
Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi
Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, sejak itulah tertanam
pada diriku pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak
Islam dan menjadikannya sebagai agama.

Pada suatu hari, pimpinan gereja mengutusku untuk
berdakwah selama tiga hari tiga malam di kecamatan Dairi,
letaknya cukup jauh dari ibukota Medan yang terletak di
sebelah selatan pulau Sumatera, Indonesia. Setelah
selesai, aku hendak menemui penanggung jawab gereja di
tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di
hadapanku lalu bertanya dengan pertanyaan aneh : "Engkau
telah mengatakan bahwa Isa Al Masih adalah tuhan, mana
dalilmu tentang ketuhanannya?" Aku menjawab : "Baik ada
dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting bagimu,
jika kamu mau beriman, berimanlah, jika tidak, kufurlah!"

Namun, ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu
mengganggu pikiranku dan selalu terngiang-ngiang di
telingaku, mendorongku untuk melihat kitab Injil, mencari
jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah diketahui
bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda,
salah satunya mathius, yang lainnya markus, yang ketiga
lukas, dan yang keempat yohannes, semuanya buatan manusia.
Ini aneh sekali, aku bertanya-tanya kepada diriku :
"Apakah Al Qur'an dengan nuskhah yang berbeda-beda juga
buatan manusia?" Aku mendapatkan jawaban yang tidak bisa
lari darinya dengan pasti : "Bukan!"

Aku mempelajari keempat Injil tersebut lalu apa yang
kudapatkan? Injil mathius berbicara apa tentang Al Masih
Isa 'Alaihis Salam? Kami membaca di dalamnya sebagai
berikut :

"Sesungguhnya Isa Al Masih bernasab kepada Ibrahim dan
kepada Daud . ." (1-1)

Lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah ia anak manusia? Ya,
kalau begitu dia manusia. Injil lukas berkata :

"Dialah yang merajai atas rumah Ya'kub untuk
selama-lamanya. Kerajaannya tidak akan berakhir." (1-33)

Dan Injil markus berkata : "Inilah silsilah yang
menasabkan Isa Al Masih anak Allah." (1)

Dan yang terakhir, Injil yohannes berbicara apa tentang
Isa Al Masih? Ia berkata :

"Pada awalnya ia adalah kalimat dan kalimat itu di sisi
Allah, maka kalimat itu adalah Allah." (1:1)

Makna dari nash ini pada awalnya adalah Al Masih dan Al
Masih di sisi Allah, maka Al Masih adalah Allah.

Aku bertanya kepada diriku : "Berarti di sana ada
perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa
'Alaihis Salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah
ataukah raja ataukah Allah?"

Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan
jawabannya. Di sini aku ingin bertanya kepada
teman-temanku, orang-orang kristen : "Apakah didapatkan
dalam Al Qur'an pertentangan antara satu ayat dengan ayat
yang lainnya?" Pasti tidak! Kenapa? Karena Al Qur'an
datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, adapun
Injil-Injil ini hanyalah buatan manusia. Kalian tahu dan
tidak ragu kalau Isa 'Alaihis Salam sepanjang hidupnya
berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya :
"Apa landasan awal yang didakwahkan Isa 'Alaihis Salam?"

Ini, Injil markus berkata :

Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka
berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al
Masih), mereka menerimanya dengan baik, menanyainya
tentang ayat wasiat pertama? Ia menjawab sambil berjalan :
"Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah : 'Dengarkan,
wahai Bani Israil! Rabb, Tuhan kita adalah Rabb Yang
Esa'." (12:28-29)

Inilah pengakuan yang jelas dari Isa 'Alaihis Salam, jadi
kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa
maka siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga
maka takkan pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah
begitu?

Kemudian aku lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada
Injil yohannes nash-nash yang menunjukkan doa dan
ketundukan Isa Al Masih 'Alaihis Salam kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Aku bertanya kepada diriku : "Jika
sekiranya Isa adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala
sesuatu, lalu apakah ia membutuhkan kepada ketundukan dari
doa?" Tentu tidak! Oleh karena itu, Isa bukan tuhan tetapi
dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah bersamaku doa
yang terdapat dalam Injil yohannes, inilah nash doanya :

"Inilah kehidupan yang abadi, agar mengetahui bahwa
Engkaulah Tuhan yang hakiki dan berjalanlah Al Masih yang
Engkau telah mengutusnya, aku pekerjamu di bumi, amal yang
Engkau telah berikan padaku ialah amalan yang aku telah
menyempurnakannya." (17-3-4)

Ini doa yang panjang, yang akhirnya berkata : "Wahai
Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak mengenal-Mu dan aku
akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan
seperti Engkau telah mencintaiku." (17-25-26)

Doa ini menggambarkan pengakuan Isa 'Alaihis Salam bahwa
Allah, Dialah Yang Maha Esa dan Isa adalah utusan Allah
yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh
manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil
mathius (15:24), di mana ia berkata :

"Aku tidak diutus melainkan pada kaum di rumah Israil yang
sasar."

Kalau demikian, jika kita gabungkan pengakuan-pengakuannya
ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk kita katakan
bahwa : "Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan
Allah kepada Bani Israil."

Kemudian aku lanjutkan pencarianku, maka aku teringat saat
aku shalat aku selalu membaca kalimat berikut : "Allah
bapak, Allah anak, Allah roh kudus, tiga dalam satu." Aku
berkata kepada diriku : "Perkara yang sangat aneh! Kalau
kita bertanya pada siswa kelas satu SD, 1+1+1=3?" Pasti
akan menjawab : "Ya." Kemudian jika kita katakan kepadanya
: "Akan tetapi juga 3=1?" Tentu dia tidak akan menyepakati
hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan yang jelas
pada apa yang kami ucapkan, karena Isa 'Alaihis Salam
berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah
Esa, tidak ada serikat bagi-Nya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara akidah yang
menancap di jiwaku sejak kecil yakni "tiga dalam satu"
dengan apa yang diakui Isa Al Masih sendiri dalam
kitab-kitab Injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang,
bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada serikat
bagi-Nya. Mana dari keduanya yang paling benar?

Belum ada usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun
yang benar dikatakan, bahwa sesungguhnya Allah itu esa.
Kemudian aku cari lagi dari kitab Injil dari awal,
barangkali aku temukan apa yang aku inginkan. Sungguh
telah aku temukan dalam pencarianku nash berikut ini :

"Ingatlah wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku
adalah Allah, sedang yang lainnya bukan tuhan dan tak ada
yang menyerupai-Ku." (46:9)

Sungguh, perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh
dengan Islam, aku mendapatkan dalam surat Al Ikhlas,
firman Allah ta'ala :

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Katakanlah : "Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah
Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tidak
beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang
pun yang setara dengan Dia."

Ya, selama kalam itu adalah kalam Allah, maka tidak akan
berbeda di manapun didapatkannya. Inilah pelajaran pertama
pada agamaku, masihiyyah yang dulu, dengan demikian tiga
dalam satu tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.

Adapun pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di
sana ada yang disebut dengan warisan dosa atau kesalahan
awal, maksudnya ialah bahwa dosa yang diperbuat Adam
'Alaihis Salam ketika memakan buah yang diharamkan dari
pohon yang berada di Surga, pasti seluruh anak manusia
akan mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam
rahim ibu akan menanggung dosa ini dan akan lahir dalam
keadaan berdosa. Apakah ini benar atau salah? Aku cari
tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk pada
perjanjian lama, di tengah pencarianku aku menemukan pada
hizqiyal sebagai berikut :

"Seorang anak tidak menanggung dari dosa seorang bapak.
Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak . ."
(Hizqiyal 18:20-21)

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan di sini, apa
yang dikatakan Al Qur'anul Karim pada masalah ini :

"Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain . ."

Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang
tuanya-lah yang akan menjadikannya nashrani atau
menjadikannya majusi."

Inilah dia, kaidah dalam Islam dan menyepakatinnya apa
yang ada/datang dalam Injil, lalu bagaimana Isa dikatakan
bahwa kesalahan Adam akan berpindah dari satu generasi ke
generasi lainnya dan bahwa manusia dilahirkan dalam
keadaan berdosa?

Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang
berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari aku letakkan
Injil dan Al Qur'an di depanku, kutujukan pertanyaan pada
Injil : "Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?"
Jawabannya : "Tidak ada, karena nama Muhammad tidak
terdapat dalam Injil." Kemudian kutujukan pertanyaan
berikutnya pada Isa seperti Al Qur'an telah bercerita
tentangnya : "Wahai Isa Ibnu Maryam, apa yang engkau
ketahui tentang Muhammad?" Jawabannya : "Sungguh Al Qur'an
telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan
sedikitpun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang
setelahku namanya adalah Ahmad." Allah berfirman atas
lisan Isa 'Alaihis Salam :

Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata : "Hai Bani
Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu,
membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat, dan
memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul
yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad),
maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa
bukti-bukti yang nyata, mereka berkata : Ini adalah sihir
yang nyata." (QS. Ash Shaff : 6)

Lihatlah! Mana yang benar?!

Di sana ada satu Injil, yakni Injil Barnabas berbeda
dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun
sayang para pemuka-pemuka agamanya (nashrani) mengharamkan
pengikutnya untuk mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang
paling benar ialah karena inilah satu-satunya Injil yang
memuat kabar gembira tentang Muhammad, di dalamnya
terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat,
seperti halnya terdapat pula kenyataan yang sesuai dengan
apa yang ada dalam Al Qur'anul Karim. Dalam Injil Barnabas
(Ishaah : 163) :

Waktu itu para murid bertanya kepada Al Masih : "Wahai
guru! Siapa yang akan datang sesudahmu?" Al Masih menjawab
dengan senang dan gembira : "Muhammad utusan Allah pasti
akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi
orang-orang yang beriman seluruhnya."

Kemudian kubaca lagi ayat lainnya dari Injil Barnabas,
yakni ucapannya pada (Ishaah : 72) :

Waktu itu seorang murid bertanya kepada Al Masih : "Wahai
guru! Saat Muhammad datang, apa tanda-tandanya hingga kami
mengenalnya?" Al Masih menjawab : "Muhammad tidak akan
datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah seratus
tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan
orang-orang yang beriman kala itu jumlah mereka tidak
sampai tiga puluh orang, maka ketika itu Allah akan
mengutus penutup para Nabi dan Rasul-Rasul, yaitu Muhammad
Rasulullah."

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam
Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan
sebanyak empat puluh lima ayat menyebutkan tentang
Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di atas di antaranya
sebagai satu bukti.

Setelah ini semua, aku berazzam (bertekad kuat) untuk
keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi
padanya, saat ini tidak ada di hadapanku kecuali Islam.
(Lihat Kitab 'Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail
Al Muqaddim)

Para pembaca rahimakumullah, demikianlah Islam yang dibawa
oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sebagai rahmat
bagi semesta alam menuntut kita selaku para pemeluknya
untuk bersyukur. Allah berfirman :

"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan
(iman)-mu dan Dia tidak meridlai kekafiran bagi hamba-Nya
dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridlai kesyukuranmu
itu dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia
memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di
(dada)-mu." (QS. Az Zumar : 7)

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan,
wallahul haadi ila sabilir rasyad.

Pertama, manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu.
Allah berfirman : "Manusia dahulunya hanyalah satu umat
kemudian mereka berselisih, kalau tidaklah karena suatu
ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah
telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang
mereka perselisihkan itu." (QS. Yunus : 19)

Kedua, Islam adalah agama tauhid. Allah berfirman :

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para
Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu), tidak ada tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah
Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al
Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa
yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya
Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian jika mereka mendebat
kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah : "Aku
menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula)
orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada
orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada
orang-orang yang ummi : "Apakah kamu (mau) masuk Islam?"
Jika mereka masuk Islam sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu
hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha
Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 18-20)

Ketiga, aqidah tauhid adalah fitrah manusia. Allah
berfirman :

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) :
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab : "Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kelak kamu tidak
mengatakan : "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."
Atau agar kamu tidak mengatakan : "Sesungguhnya
orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak
dahulu sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang
(datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat
dahulu?" (QS. Al A'raf : 172-173)

Keempat, petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah
berfirman :

Katakanlah : "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti)
ialah petunjuk Allah dan (janganlah kamu percaya) bahwa
akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan
kepadamu dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan
mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu." Katakanlah :
"Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah
memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha mengetahui."
(QS. Ali Imran : 73)

Kelima, Isa 'Alaihis Salam adalah Nabi dan Rasul Allah.
Allah berfirman :

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam
agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah
kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam
itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan
kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan
(tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah
dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan :
"(Tuhan itu) tiga." Berhentilah (dari ucapan itu). Itu
lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa,
Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit
dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai
pemelihara. (QS. An Nisa' : 171)

Walhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Ditulis Oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari

(Diringkas Dari Kitab 'Uluwul Himmah)

Saturday, September 6, 2008

KEUTAMAAN PUASA

KEUTAMAAN PUASA
Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

SHIFATI SHAUMIN NABIYII SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM FII RAMADHAN

Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (qath'i) dalam Kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk taqarrub kepada Allah 'Azza wa Jalla dan juga menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman Allah.
"Artinya : Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta kaum wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu', dan kaum pria serta wanita yang bersedekah, dan kaum pria serta wanita yan berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta wanita yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar" [A-Ahzab : 35]
Dan firman Allah.
"Artinya : Dan kalau kalian puasa, itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya" [Al-Baqarah : 184]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka. Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengkhususkan satu pintu surga untuk orang yang puasa. Puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung ; dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
1. Puasa Adalah Perisai [1]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwatnya dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa, menjadikannya sebagai wijaa'[2] bagi syahwat ini, karena puasa menahan kuatnya anggota badan hingga bisa terkontrol, menenangkan seluruh anggota badan, serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menjaga anggota badan yang dhahir dan kekuatan bathin. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba'ah[3] hendaklah menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat) baginya" [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Jika telah jelas demikian -wahai muslim- sesungguhnya puasa itu menghancurkan syahwat, mematahkan tajamnya syahwat yang bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka, puasa menghalangi orang yang puasa dari neraka. Oleh karena itu banyak hadits yang menegaskan bahwa puasa adalah benteng dari neraka, dan perisai yang menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim" [Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa'id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah : "70 musim" yakni : perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka" [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil 'Ash. Ini adalah hadits yang shahih]
Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi" [4]
Sebagian ahlul ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah. Namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dengan ikhlas karena mengharapkan wajah Allah Ta'ala, sesuai dengan apa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalm termasuk puasa di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits ini).
2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga
Engkau telah tahu wahai hamba yang taat -mudah-mudahan Allah memberimu taufik untuk mentaati-Nya, menguatkanmu dengan ruh dari-Nya- bahwa puasa menjauhkan orang yang mengamalkannya ke bagian pertengahan surga.
Dari Abu Umamah Radhiyallahu 'anhu katanya, "Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) :
"Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? ; beliau menjawab : "Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu" [Hadits Riwayat Nasa'i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]
3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas *
4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan*
5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk*
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [5] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : 'Aku sedang berpuasa'[6]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk[7] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya" [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini bagi Bukhari]
Di dalam riwayat Bukhari (disebutkan).
"Artinya : Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya"
Di dalam riwayat Muslim.
"Artinya : Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman : "Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku" Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan ; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau Misk"
6. Puasa dan Al-Qur'an Akan Memberi Syafa'at Kepada Ahlinya di hari Kiamat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : "Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa'at karenaku". Al-Qur'an pun berkata : "Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa'at karenaku" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Maka keduanya akan memberi syafa'at" [8]
7. Puasa Sebagai Kafarat
Diantara keistimewaan puasa yang tidak ada dalam amalan lain adalah ; Allah menjadikannya sebagai kafarat bagi orang yang memotong rambut kepalanya (ketika haji) karena ada udzur sakit atau penyakit di kepalanya, kaparat bagi yang tidak mampu memberi kurban, kafarat bagi pembunuh orang kafir yang punya perjanjian karena membatalkan sumpah, atau yang membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat zhihar. Akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini.
Allah Ta'ala berfirman.
"Artinya : Dan sempurnkanlah olehmu ibadah haji dan umrah karena Allah ; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka wajib menyembelih kurban yang mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepalamu, hingga kurban itu sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercu kur), maka wajib atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah di dapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluargannya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya" [Al-Baqarah : 196]
Allah Ta'ala juga berfirman.
"Artinya : Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" [An-Nisaa' : 92]
"Artinya : Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah kamu yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)" [Al-Maidah : 89]
"Artinya : Orang-orang yang menzhihar isteri mereka kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih" [Al-Mujaadiliah : 3-4]
Demikian pula, puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah" [Hadits Riwayat Bukhari 2/7, Muslim 144]
8. Rayyan Bagi Orang yang Puasa
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terkahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya" [Hadits Riwayat Bukhari 4/95, Muslim 1152, dan tambahan lafadz yang akhir ada pada riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1903]

Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.

Foote Note.
  1. Pelindung
  2. Maksudnya memutuskan syahwat jiwa
  3. Yang mampu menikah dengan berbagai persiapannya
  4. Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan. Al-Walid bin Jamil, dia jujur tetapi sering salah, akan tetapi di dapat diterima. Dan dikeluarkan pula oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir 8/260,274, 280 dari dua jalan dari Al-Qasim dari Abi Umamah. Dan pada bab dari Abi Darda', dikeluarkan oleh Ath-Thabrani di dalam Ash-Shagir 1/273 di dalamnya terdapat kelemahan. Sehingga hadits ini SHAHIH
  5. Yakni : Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas.
  6. Dengan ucapan yang terdengar oleh si pencerca atau orang yang mengganggu tersebut, ada yang mengatakan : diucapkan di dalam hatinya agar tidak saling mencela dan saling memerangi. Yang pertama lebih kuat dan lebih jelas, karena ucapan secara mutlak adalah dengan lisan, adapun bisikan jiwa dibatasi oleh sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah : "Sesunguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terbetik dalam hatinya selama belum diucapkan atau diamalkannya" (Muttafaqun 'alaih). Maka jelaslah bahwa ucapan itu mutlak tidak terjadi kecuali oleh ucapan yang dapat dididengar dengan suara yang terucap dan huruf. Walallahu a'lam.
  7. Lihat apa yang telah ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilu Shayyin minal Kalami At-Thayyib hal.22-38
  8. Diriwayatkan oleh Ahmad 6626, Hakim 1/554, Abu Nu'aim 8/161 dari jalan Huyaiy bin Abdullah dari Abdurrahman Al-hubuli dari Abdullah bin 'Amr, dan sanadnya hasan. Al-Haitsami berkata di dalam Majmu' Zawaid 3/181 setelah menambah penisbatannya kepada Thabrani dalam Al-Kabir : "Dan perawinya adalah perawi shahih"
Faedah : Hadits ini dan yang semisalnya dari hadits-hadits yang telah warid yang menyatakan bahwa amalan itu berjasad, wajib diimani dengan keimanan yang kuat tanpa mentahrif atau mentakwilnya, karena demikianlah manhajnya salafus shalih, dan jalannya mereka tidak diragukan lebih selamat, lebih alim dan bijaksana (tepat).
Cukuplah bagimu bahwa itu adalah salah satu syarat iman. Alla Ta'ala berfirman.
"Artinya : (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugrahkan kepada mereka" [Al-Baqarah : 3]

Friday, August 8, 2008

Makan dan minum dengan mempergunakan tangan kanan dan larangan mempergunakan tangan kiri

Makan dan minum dengan mempergunakan tangan kanan dan larangan mempergunakan tangan kiri

Makan dan minum dengan mempergunakan tangan kanan dan larangan mempergunakan tangan kiri

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Abi Salamah :

“ Wahai anak kecil, makanlah dengan menyebut Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat denganmu “[1]

Dan dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Janganlah kalian makan dengan mempergunakan tangan kirimu karena sesungguhnya syaithan makan dengan mempergunakan tangan kirinya “[2]

Dan pada hadits Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaknya dia makan dengan mempergunakan tangan kanannya dan apabila minum hendaknya dengan mempergunakan tangan kanannya. Karena sesungguhnya syaithan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya “[3]

Ibnul Jauzi mengatakan : “ Ketika tangan kiri dijadikan untuk ber-istinja’ dan menyentuh hal-hal yang najis, sementara tangan kanan untuk mengambil makanan, maka tidaklah shahih salah satu dari keduanya dipergunakan pada pekerjaan tangan yang lainnya, dikarenakan ini merupakan perendahan suatu yang memiliki kedudukan serta meninggikan suatu yang direndahkan kedudukannya. Barang siapa yang menyalahi tuntunan hikmah syaa’ berarti telah menyepakati syaithan “[4]

Sedangkan hadits-hadits tersebut dalam permasalahan ini adalah hadits-hadits yang masyhur yang tidak lagi tersembunyi oleh khalayak awam, hanya saja sebagian kaum muslimin – semoga Allah memberi mereka hidayah – masih saja bersikeras dengan sifat yang tercela ini, yaitu makan dan minum dengan mempergunakan tangan kiri. Dan apabila dikatakan kepada mereka tentang hal itu, mereka menjawab : Hal ini telah menjadi kebiasaan kami dan sangat sulit untuk merubahnya. Demi Allah sesungguhnya jawaban ini merupakan kemilau rayuan syaithan bagi mereka, dan penghalang bagi mereka untuk mengikuti syara’. Dan secara umum, ini merupakan bukti akan kurangnya iman ddidalam hati mereka. Jika tidak maka apa makna dari penyelisihan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan larangan beliau !

Dan lebih buruk dan lebih keji dari itu, adalah mereka yang melakukan hal itu dengan kesombongan dan keangkuhan.

Salamah bin al-Akwa’ radhiallahu ‘anhumeriwayatkan : “ Bahwa seseorang makan disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mempergunakan tangan kirinya. Maka beliau bersabda : “ Makanlah dengan tangan kananmu “ Orang itu berkata : Saya tidak sanggup. Beliau bersabda : Engkau tidak sanggup ? Tidak ada yang menghalangimu kecuali rasa sombong. Maka diapun tidak sanggup mengangkat tangannya kemulutnya “ Pada riwayat Ahmad : “ Maka tangan kanannya tidak sanggup lagi dia angkat kemulutnya selamanya “[5]

An-Nawawi mengatakan : “ Pada hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang mendoakan siapa saja yangmenyalahi hukum syara’ tanpa adanya udzur. Dan pada hadits ini juga menunjukkan perintah untuk menjalankan Amar Makruf dan Nahi Munkar disetiap keadaan hingga disaat makan sekalipun. Dan disenangi unum mengajarkan seseorang yang makan dengan adab-adab makan apabila dia menyalahinya[6].

Peringatan : Apabila ada udzur syar'i mempergunakan tangan kanan untuk makan, seperti karena sakit atau luka dan selainnya sehingga tidak mampu mempergunakan tangan kanan, maka tidaklah mengapa makan dengan mempergunakan tangan kiri. Dan Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya.



[1] HR. Al-Bukhari ( 5376 ) danlafazh diatas adalah lafazh riwayat Al-Bukhari, Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 15895 ), Abu Daud ( 3777 ), Ibnu Maja ( 3267 ), Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 ).

[2] HR. Muslim ( 2020 ) danlafazhnya adalah lafazh riwayat Muslim , Ahmad ( 14177 ), Ibnu Majah ( 3268 ) dan Malik ( 1711 ).

[3] HR. Muslim ( 2020 ), Ahmad ( 4523 ), At-Tirmidzi ( 1800 ), Abu Daud ( 3776 ), Malik ( 1712 ) dan Ad-Darimi ( 2020 )

[4] Kasyful Musykil 2 / 594 ) ( 1227 )

[5] HR. Muslim ( 2021 ) dan Ahmad ( 16064 )

[6] Syarh Shahih Muslim Jilid 7 ( 14 / 161 )

Sunday, July 6, 2008

CARA MENASEHATI ORANG YANG TERANG-TERANGAN MELAKUKAN KEMAKSIATAN

CARA MENASEHATI ORANG YANG TERANG-TERANGAN MELAKUKAN KEMAKSIATAN
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sepucuk surat berasal dari Kuwait, dikirim oleh seseorang yang mengeluhkan saudaranya, ia menyebutkan bahwa saudaranya itu melakukan kemaksiatan dan telah sering dinasehati, tapi malah semakin terang-terangan. Pengirim surat mengharap bimbingan mengenai masalah ini.
Jawaban
Kewajiban sesama muslim adalah saling menasehati, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." [Al-Ma'idah : 2]
Dan ayat,
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." [Al-'Ashr : l-3]
Serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
“Agama adalah nasehat." Ditanyakan kepada beliau, "Kepada siapa ya Rasulullah?" beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jawab, "Kepada Allah, kitabNya, RasulNya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin lainnya."[Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman (55). Al-Bukhari mengomentarinya pada kitab Al-Iman]
Kedua ayat dan hadits mulia ini menunjukkan wajibnya saling menasehati dan saling tolong menolong dalan kebaikan serta saling berwasiat dengan kebenaran. Jika seorang muslim melihat saudaranya tengah malas melaksanakan apa yang telah diwajibkan Allah atasnya, maka ia wajib menasehatinya dan mengajaknya kepada kebaikan serta mencegahnya dari kemungkaran sehingga masyarakatnya menjadi baik semua, lalu kebaikan akan tampak sementara keburukan akan sirna, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar." [At-Taubah : 71]
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pun telah bersabda
"Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman."[Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman (49).]
Maka anda, penanya, selama anda menasehatinya dan mengarahkannya kepada kebaikan, namun ia malah semakin menampakkan kemaksiatan, maka hendaknya anda menjauhinya dan tidak lagi bergaul dengannya. Di samping itu, hendaknya anda mendorong orang lain yang lebih berpengaruh dan lebih dihormati oleh orang tersebut, untuk turut menasehatinya dan mengajaknya ke jalan Allah. Mudah-mudahan dengan begitu Allah memberikan manfaat. Jika anda mendapati bahwa penjauhan anda itu malah semakin memperburuk dan anda memandang bahwa tetap menjalin hubungan dengannya itu lebih bermanfaat baginya untuk perkara agamanya, atau lebih sedikit keburukannya, maka jangan anda jauhi, karena penjauhan ini dimaksudkan sebagai terapi, yaitu sebagai obatnya. Tapi jika itu tidak berguna dan malah semakin memperparah penyakitnya, maka hendaknya anda melakukan yang lebih maslahat, yaitu tetap berhubungan dengannya dan terus menerus menasehatinya, mengajaknya kepada kebaikan dan mencegahnya dari keburukan, tapi tidak menjadikannya sebagai kawan atau teman dekat. Mudah-mudahan Allah memberikan manfaat dengan itu. Inilah cara yang paling baik dalam kasus semacam ini yang berasal dari ucapan para ahli ilmu.
[Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, juz 5, hal. 343-344, Syaikh ibnu Baz]
APA YANG DIMAKSUD DENGAN HIKMAH?
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa yang dimaksud dengan hikmah? Dan bagaimana seorang muslim bisa menyandangnya?
Jawaban
Hikmah adalah keselarasan dalam bersikap dan menetapkan. Kesalahan bersikap berarti bertolak belakang dengan hikmah. Karena itu, sebagian dai yang berdakwah tanpa hikmah, ketika melihat seseorang yang dinilainya mungkar, ia akan menjelekkannya dan meneriakinya. Contohnya: Ketika melihat seseorang masuk masjid lalu langsung duduk tanpa shalat tahiyyatul masjid lebih dulu, ia akan meneriakinya. Demikian yang tanpa hikmah. Tapi yang dengan hikmah, tidak akan begitu. la akan menjelaskannya kepada orang tersebut dan menguraikan haditsnya. Demikian juga yang dilakukan dalam perkara-perkara yang wajib dan yang haram serta lainnya.
Dan begitu pula dalam sikap-sikap khusus yang berhubungan dengan manusia, seperti dalam bidang keuangan, harus pula dengan hikmah. Berapa banyak orang yang boros dan berhutang hanya untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak.
PENJELASAN AYAT (TIADALAH ORANG YANG SESAT ITU AKAN MEMBERI MUDHARAT KEPADAMU APABILA KAMU TELAH MENDAPAT PETUNJUK)
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ketika dikatakan kepada seseorang, "Kenapa anda tidak merubah kemungkaran ini?" atau "Kenapa anda tidak menasehati keluarga anda untuk meninggalkan kemungkaran ini?" lalu orang tersebut menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." [Al-Ma'idah : 105]
Bagaimana jawaban Syaikh?
Jawaban
Ayat ini adalah ayat muhkamah, ayat ini tidak dihapus hukumnya, namun orang yang berdalih dengan ayat ini telah salah faham. Dalam ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan
"Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." [Al-Ma'idah: 105]
Di antara petunjuk itu adalah menyuruh manusia berbuat baik dan mencegah kemungkaran sesuai kesanggupan. Jika meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar tidak disebut telah berpetunjuk, karena jika telah tampak kemungkaran pada suatu kaum lalu ia tidak berusaha merubahnya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksaan secara umum yang menimpa semua orang (yang baik dan yang buruk).
[Alfazh wa Mafahim fi Mizanisy Syari'ah, hal. 33 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

Friday, June 6, 2008

MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMAAH

Di antara syari'at yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah. Barangsiapa yang melaksanakan syari'at, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba' nya [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

Artinya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan"
[HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah].

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin Basyir radhiyallahu anhu, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

Artinya: Dahulu Rasullullah shallallahu 'alaihi wasallam meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau shallallahu 'alaihi wasallam keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".
[HR. Muslim]

Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku"
[HR. Al Bukhari dan Muslim],

dan pada riwayat Al Bukhari, Anas radhiyallahu anhu berkata:

"Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya"

sedangkan pada riwayat Abu Ya'la, berkata Anas radhiyallahu anhu:

"Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar yaitu dia akan lari darimu."

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjama'ah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat".

Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam : '... atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian': "Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak dikatakan didalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi [pengertian seperti itu dikalangan ahli ilmu, pent-]". Akan tetapi sungguh amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin.

Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman: "Apabila jamaah shalat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan An Nu'man maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf. Dan pada kenyataannya -kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf maka akan luaslah shaf [menampung banyak jamaah, pent-] khususnya shaf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka:

Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar'i, yaitu tidak meluruskan dan merapatkan shaf.

Kedua: Mereka meninggalkan celah untuk syaithan dan Allah akan memutuskan mereka, sebagaimana hadits dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya".
[HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]

Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadits An Nu'man terdapat faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu: sesungguhnya rusaknya dhahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya.

Disamping itu bahwa sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya.

Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang menyambung shaf".
[HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah].

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang shahih:

"Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya".
[HR.Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lain:

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk ditempeli bahu saudaranya -pent) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah pada shaf dan menutupinya".
[HR. Ath Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Hiban].

Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf
Dari An Nu'man bin Basyir radhiyallahu anhu, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

Artinya: Dahulu Rasullullah shallallahu 'alaihi wasallam meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau shallallahu 'alaihi wasallam keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".
[HR. Muslim]

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, "Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian."

Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.
Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.

Keutamaan shaf pertama bagi laki-laki.

Diantara haditsnya adalah :

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf laki-laki adalah yang laing belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jelek shaf perempuan adlaah yang paling depan.
(H.R. Muslim).

Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merayab.
(Bukhari dan Muslim.)

Keutamaan mendapat takbiratul ihram bersama imam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

Barangsiapa talah melakukan shalat karena Allah selama 40 hari berjama’ah, ia mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram dengan imam –pent), maka dicatatlah baginya dua kebebasan ; kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari kemunafikan. (H.R. Tirmidzi dari Anas, dihasankan oleh Syeikh Al Albani di kitab shahih Al Jami’ II/1089).

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab