Alkisah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung
penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan
setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham
dengan orang lain. Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar.
Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah
paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa
lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.Akhirnya tiba hari
ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira
disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya
mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan
diri/bersabar.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dai bisa menyampaikan kepada
ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa
anaknya ke pagar dan berkata :Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba
lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali
seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang
lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar.
Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali,
tetapi akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali kau meminta
maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti
luka fisik.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pergi, dan jangan banting pintunya terlalu keras, mungkin suatu saat nanti
kamu akan mengetuknya lagi
Dalam hidup ini ada begitu banyak pintu kebahagiaan yang terbuka untuk
kita, tetapi kadang kita terpaku pada sebuah pintu yang tertutup, berharap
suatu saat pintu itu akan terbuka.
Monday, March 9, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment