Monday, March 9, 2009

Renungan

Suatu ketika seorang Habaib dari Hadramaut ingin menunaikan ibadah haji
dan berziaroh ke kakeknya Rasulullah SAW. Beliau berangkat dengan diiringi
rombongan yang melepas kepergiannya. Seorang Sulton di Hadramaut, kerabat
Habib tersebut, menitipkan Al Qur'an buatan tangan yang terkenal
keindahannya di jazirah arab pada saat itu untuk disampaikan kepada raja
Saudi.


Sesampai di Saudi, Habib tersebut disambut hangat karena statusnya sebagai
tamu negara. Setelah berhaji, beliau ziarah ke makam Rasulullah. Karena
tak kuasa menahan kerinduannya kepada Rasulullah, beliau memeluk turbah
Rasulullah. Beberapa pejabat negara yang melihat hal tersebut mengingkari
hal tersebut dan berusaha mencegahnya sambil berkata, "Ini bid'ah dan
dapat membawa kita kepada syirik." Dengan penuh adab, Habib tersebut
menurut dan tak membantah satu kata pun.


Beberapa hari kemudian, Habib tersebut diundang ke jamuan makan malam raja
Saudi. Pada kesempatan itu beliau menyerahkan titipan hadiah Al Quran dari
Sulton Hadramaut. Saking girang dan dipenuhi rasa bangga, Raja Saudi
mencium Al Qur'an tersebut!
Berkatalah sang Habib, "Jangan kau cium Qur'an tersebut... Itu dapat
membawa kita kepada syirik!" Sang raja menjawab, "Bukanlah Al Qur'an ini
yang kucium, akan tetapi aku menciumnya karena ini adalah KALAMULLAH!"
Habib berkata, "Begitu pula aku, ketika aku mencium turbah Rasulullah,
sesungguhnya Rasululullah-lah yang kucium! Sebagaimana seorang sahabat
(Ukasyah) ketika menciumi punggung Rasulullah, tak lain adalah karena rasa
cinta beliau kepada Rasulullah. Apakah itu syirik?!" Tercengang sang raja
tak mampu menjawab. Kemudian Habib tersebut membaca suatu syiir yang
berbunyi,


Marortu 'alad diyaari diyaaro lailah
Uqobbilu dzal jidaari wa dzal jidaaro
Fa ma hubbud diyaar, syaghofna qolbi
Wa lakin hubbu man sakanad diyaro

Kulalui depan rumah laila (sang kekasih)
Kuciumi dinding2 rumahnya
Tidaklah kulakukan itu karena cintaku kepada rumahnya,
Namun karena cintaku kepada si penghuni rumah

No comments: