Harta, pangkat, dan jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur
kesuksesan, dalam praktiknya kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.
Semoga Allah Yang Mahaagung mengaruniakan kepada kita kehati-hatian atas
kesuksesan. Sebab, orang yang diuji dengan kegagalan ternyata lebih mudah
berhasil dibandingkan mereka yang diuji dengan kesuksesan.
Banyak orang yang tahan menghadapi kesulitan, tapi sedikit orang yang
tidak tahan ketika menghadapi kemudahan. Ada orang yang bersabar ketika
tidak mempunyai harta, tapi banyak orang yang tidak bisa mengendalikan
diri saat dikaruniai harta yang melimpah. Ternyata, harta, pangkat, dan
jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya
kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.
Apa sebenarnya kesuksesan itu? Boleh jadi setiap orang memiliki pandangan
berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan
sebagai keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan.
Dalam pandangan Islam, kesuksesan tidak sekadar aspek dunia belaka, tapi
menyentuh pula aspek akhirat.
Kesuksesan, setidaknya mencakup lima hal. Pertama, kalau aktivitas yang
kita lakukan menjadi suatu amal. Apalah artinya kita banyak berbuat kalau
tidak bernilai amal. Kedua, bila nama kita semakin baik. Apalah artinya
kita mendapatkan uang, mendapatkan harta atau kedudukan kalau nama kita
coreng-moreng. Ketiga, kalau kita terus bertambah ilmu, pengalaman, dan
wawasan. Apalah artinya jika harta bertambah, tetapi ilmu dan pahala tidak
bertambah. Bila ini yang terjadi, kita hanya akan terjebak oleh harta yang
kita miliki.
Keempat, kita disebut sukses kalau kita dapat menjalin silaturahmi dengan
orang lain, sehingga bertambah saudara. Apalah artinya mendapatkan uang
dan kedudukan, tetapi musuh kita bertambah banyak. Dengan terjalin
silaturahmi, insya Allah akan semakin banyak orang yang mencintai kita.
Bila orang sudah cinta, maka ia akan mengerahkan ilmunya untuk menambah
ilmu kita, mencurahkan wawasannya untuk mengembangkan wawasan kita, serta
memberikan tenaga dan hartanya untuk melindungi kita.
Kelima, kita disebut sukses bila pekerjaan yang kita lakukan dapat
memberikan manfaat yang besar kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda,
"Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya". Semakin
banyak menjadi jalan kesuksesan bagi orang lain, maka semakin sukseslah
diri kita.
Pada hakikatnya kesuksesan itu milik setiap orang. Yang menjadi masalah,
tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu.
Setidaknya ada tujuh formula yang dapat kita lakukan untuk meraih
kesuksesan tersebut. Saya menyebutnya dengan 7B. Ketujuh teknik ini harus
ada semuanya, jika salah satu tidak ada, maka belum bisa dikatakan sebuah
kesuksesan.
B pertama, beribadah dengan benar. Ibadah adalah fondasi dari niat,
fondasi dari track yang akan kita buat. Siapapun yang ingin membangun
kesuksesan, ia harus memperbaiki ibadahnya. Perbaiki, terus perbaiki
ibadah. Siapa yang akan membimbing kita jika ibadah kita buruk? Siapa yang
akan melindungi kita dari ketergelinciran kalau ibadah kita tidak jalan?
Bukankah Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang yang ibadahnya baik.
Intinya, ibadah adalah fondasi yang akan membuat kita agar senantiasa
terjaga dalam jalur yang tepat.
B kedua, berakhlak baik. Akhlak yang baik adalah bukti dari ibadah yang
benar. Apapun yang kita lakukan, kalau dilandasi akhlak yang buruk niscaya
akan berakhir dengan kehancuran. Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu?
Merespons segala sesuatu dengan sikap yang terbaik.
B ketiga, belajar tiada henti. Karena itu, pertanyaan yang harus kita
ajukan adalah apakah kita menyukai belajar? Setiap hari masalah bertambah,
kebutuhan bertambah, dan situasi berubah. Bagaimana mungkin kita menyikapi
situasi yang terus berubah dengan ilmu yang tidak bertambah!
B keempat, bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas. Curahan keringat tak
selalu identik dengan kesuksesan. Berpikir cerdas adalah merupakan bagian
dari kerja keras. Pada prinsipnya, sebuah hasil yang maksimal akan diraih
bila kita mampu mengaktualisasikan ibadah, akhlak, dan ilmu kita dalam
pekerjaan yang berkualitas.
B kelima, bersahaja dalam hidup. Ini poin yang sangat penting. Banyak
orang bekerja keras dan mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi dia
tidak dapat mengendalikan dirinya. Bersahaja itu bukan miskin, bersahaja
adalah menggunakan sesuatu sesuai keperluan. Dengan bersahaja kita akan
memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tidak diperbudak
keinginan.
B keenam, bantu sesama. Gemar membantu orang lain adalah tanda kesuksesan.
Kita harus gigih agar kelebihan yang kita miliki dapat menjadi nilai
tambah bagi sesama.
B ketujuh, bersihkan hati selalu. Bila hati kita berpenyakit, maka akan
tumbuh rasa ujub, ria, sum'ah, takabur, dan lainnya. Kondisi ini akan
membuat amal-amal kita tidak berarti; tidak indah lagi di dunia dan tidak
berkah lagi untuk akhirat. Allah SWT berfirman, Pada hari ketika harta dan
anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan
hati yang selamat (QS. Asy-Syu'ara: 88-89).
Andaikata formula ini kita lakukan dengan baik, Insya Allah akan berdampak
untuk kesuksesan diri, berdampak pada lingkungan, dan pada saat yang sama
berdampak pula pada kesuksesan kita di akhirat. Wallahu a'lam bishawab.
Monday, March 9, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment